Aku tak pernah mengerti dengan diriku
Diluar sana ada orang yang menyayangiku tulus, atau mungkin dia mencintai aku (tulus), yang mau melakukan apapun demi aku, yang menerima aku apa adanya, yang dengan sabar menghadapiku, yang selalu ada disaat aku butuh, yang dengan ikhlas mencoba untuk membantuku melupakan apa yang sampai saat ini tak bisa aku lupakan.
Tapi apa? Aku mengacuhkannya sampai dia mengatakan bahwa dia ingin menyerah menghadapiku. Padahal sebelumnya dia pernah mengatakan bahwa dia bukanlah orang yang pantang menyerah. Sekejam itukah aku? Sebegitu bodohnya kah aku?
Bukan aku tak pernah mencoba membuka hati untuknya, bukan aku tak menghargai usahanya, bukan aku mengabaikan perjuangannya, karena aku tau rasanya, aku tau rasanya ketika orang menutup hatinya untukku, aku tau bagaimana rasanya ketika usahaku tak dihargai, dan aku sangat tau bagaimana rasanya ketika perjuanganku diabaikan. Aku tau, itu menyakitkan.
Selama ini aku telah mencoba membuka hati untuknya, berusaha agar aku dapat menerimanya tanpa memikirkan lagi semua hal yang telah berlalu. Tapi harus apa yang aku lakukan bila usahaku selama ini hanya menambah beban perasaan? Beban? Ya, beban. Aku harus berusaha melupakan atau mungkin tepatnya mengikhlaskan yang sudah berlalu dan aku harus berusaha untuk menghargai yang ada saat ini dan juga menerimanya. Terlalu rumit, ya intinya aku harus berusaha mengikhlaskan dan berusaha menerima dengan ikhlas. Mungkin untuk sebagian orang itu bukanlah hal yang pantas dijadikan beban, karena mungkin bagi mereka itu merupakan hal yang mudah. Tapi itu sulit untukku.
Terlalu egois memang ketika aku selalu memintanya untuk mengerti aku, tanpa aku sadari bahwa mungkin dia juga ingin dimengerti. Meski memang dia selalu mengerti (dalam lelahnya), mungkin. Tapi aku selalu menganggap bahwa dia tak mengerti aku, tak akan. Dan dengan pengertiannya itu, dengan segala kebaikkannya itu, aku tak tau aku harus berbuat apa. Seandainya aku dapat melakukan hal yang sama dengannya, padanya. Tapi aku tak bisa :((
Aku tak tau mengapa sampai saat ini aku belum bisa mengikhlaskan semua yang telah berlalu, tepatnya telah sangat lama berlalu, katakanlah aku belum bisa move on (bahasa zaman sekarang). Kadang aku berfikir bahwa ini sangat konyol, ini tidak wajar. Bayangkan saja, aku mengorbankan banyak hati hanya untuk satu hati yang tak pernah menghargai pengorbananku, agak miris memang, but that's the reality. Ya, itulah kenyataannya.
Jika ada yang dapat aku lakukan untuknya, tanpa harus menyakitinya, tanpa harus membebani perasaanku sendiri, akan aku lakukan. Tapi apa? Nothing. Mungkin suatu saat :'))
And to you, whoever. I'm sorry!!
Ngakak boleh? Rada inget di blog ada judul "Perjuanganku yang kau abaikan" asanamah gitu :-D
ReplyDeletewkwk boleh banget bro
ReplyDeleterada inget judulna atau eusina? atau jelemana? :p
Hahaha :-D
ReplyDeleteInget kabehan na bro wkwk
Ari nu kuduna inget, poho. Nu kuduna poho, inget wae.
ReplyDeleteDasar jelema wkwk
"Bayangkan saja, aku mengorbankan banyak hati hanya untuk satu hati yang tak pernah menghargai pengorbananku" etaa pisan :-D
ReplyDeleteHahaha naon ah eta pisan teh naon? :p
ReplyDelete